Kepada para sahabat dan umat beriman Samawi di seluruh dunia,
Hari ini adalah hari yang teramat suci sekaligus penuh duka, ketika pelayanan suci Sang Bab telah mencapai kegenapannya dan wujud suci-Nya ditinggalkan dalam keadaan hancur. Inilah hari untuk dikenang, dan salah satu hari raya yang paling suci dan paling utama sepanjang tahun. Namun demikian, Baha'u'llah telah bersabda bahwa maut telah dijadikan pembawa kabar sukacita, dan hal itu sungguh benar bagi pengorbanan Sang Bab yang perkasa dan agung, yang karenanya pesan-Nya bergema dan bergaung ke seluruh penjuru dunia yang dikenal, jauh dan luas.
Hari ini adalah hari yang hanya sedikit orang merasa nyaman mengakui kekejamannya: pada hari ini, darah seorang mukmin muda ditumpahkan bersama darah Awatara Tuhan. Anis baru berusia 22 tahun, namun keberaniannya lebih kuat daripada siapa pun di zamannya, sedemikian rupa sehingga ia diberi tempat di sisi mulia Sang Bab pada saat-saat terakhir beliau. Maka terjadilah bahwa sekelompok serdadu Kristen menyiapkan eksekusi di alun-alun Tabriz, namun melalui sabda Sang Bab sendiri, nasib mereka telah ditetapkan sedemikian rupa sehingga tak akan ada darah di tangan mereka.
Petunjuk Sang Bab kepada murid-Nya terputus, dan Ia digantung bersama Anis yang muda belia, dan pada saat itulah tembakan dilepaskan; ketika asap menyingkir, tali-tali yang menggantung Anis dan Sang Bab ditemukan telah terputus, darah Anis yang muda memang tertumpah, namun ia tidak terluka secara fatal, dan Sang Bab telah lenyap. Konon Ia menyelesaikan percakapan-Nya yang tak dapat diganggu itu, di tengah kekesalan besar para pengawal setempat, yang kaptennya telah memukul Sang Bab hingga jatuh ke tanah dengan pukulan ke kepala-Nya; setelah itu para pengawal setempat memperlakukan Sang Bab dengan sangat kejam dan menyeret-Nya kembali dari selnya ke halaman, tempat Ia dan Anis kembali digantung dan ditembak — kali ini oleh kelompok yang lebih kecil yang terdiri dari para pengawal setempat, sementara para serdadu Kristen menganggap tugas mereka telah tuntas karena telah menembak Sang Bab sesuai perintah dan telah menyaksikan mukjizat sedemikian rupa, seraya menunjukkan tali-tali yang berjumbai — yang dahulu mengikat para tahanan — kepada khalayak sebagai bukti saat yang penuh mukjizat itu.
Jasad-jasad itu dijaga di dekat sebuah parit oleh para pengawal setempat, namun jenazah Anis dan Sang Bab berhasil diselamatkan, lalu dijaga dengan aman oleh para umat beriman hingga akhirnya jenazah Anis dan Sang Bab dimakamkan di Gunung Karmel oleh Abdu'l-Baha.
Kisah sengsara semacam ini sukar didengar oleh umat beriman — tentang penghinaan, pelukaan, dan penderitaan akhir Sang Manifestasi — namun pengorbanan seperti itu telah diberikan dalam beragam cara sepanjang zaman. Sesungguhnya, barang siapa mengenali pesan yang dahsyat dari eksekusi Sang Bab, ia telah memahami inti sejati dari sengsara Sang Kristus. Inilah hari ketika Sang Purba nan elok itu datang sekali lagi untuk menumpahkan darah-Nya di atas altar Zaman Baru, agar sari kehidupan merah tua dari nadi-Nya dapat menaburkan benih bagi taman mawar Ilahi yang berlimpah.
Kedahsyatan pengorbanan Sang Bab tak boleh sekali-kali diremehkan, tak pula boleh diperlakukan sebagai peninggalan masa lampau. Zaman Baru itu sendiri bermula dengan Deklarasi-Nya, dan dengan demikian kedaulatan zaman ini dimeteraikan oleh darah-Nya.
Kenanglah hari ini, dan kuduskanlah ia. Bersatulah dalam hati dengan sahabat dan keluarga kalian, berkumpullah dalam semangat hari yang luar biasa ini, dan kobarkanlah api kenangan akan cinta kepada Sang Nama.
Kepada umat Samawi di seluruh dunia dengan penuh cinta,
—Zahratallah, Pelindung Iman Samawi.